Bisnis asik-asik

Isu Dolly memang sudah lewat, konon kawasan lokalisasi ini sudah berdiri sejak jaman penjajahan. Walikota terbaru bu Risma memutuskan melakukan penutupan lokalisasi terbesar se-asia tenggara karena wilayah ini mengancam masa depan generasi. Detail bisa dicari di interview bu Risma dengan Najwa sihab pada acara Mata Najwa metro TV.

Saya tidak bermaksud bicara tentang gang Dolly dengan segala pro dan kontranya, saya hendak bercerita tentang ke-naivan saya. Agaknya memang disetiap tempat selalu ada daerah lokalisasi bisnis asik-asik. Sekitar 2 tahun lalu saya berkunjung kerumah kawan baik saya yang berdomisili di Salatiga. Saya dan Chim teman sekelas ketika di kampus, dia pindah ke Salatiga tempat kelahiran istrinya setelah bekerja beberapa tahun di kota Batam.

Dari jogja-Salatiga-Jogja saya menumpang travel / shuttle bus. Dalam perjalanan pulang menuju Jogja lagi shuttle bus yang saya tumpangi melewati sebuah perkampungan yang agak mirip kompleks. Bukan kampung yang sejahtera saya kira (aduh bagaimana ya menyebutnya?) bangunan-bangunan rumah sederhana jauh dari mewah kiri kanan sepanjang jalan ada tempat karaoke plus papan iklan karaoke, sungguh saya juga sempat mengira kampung ini penduduknya menyukai karaoke karena pada dinding-dinding bangunan rumah terdapat gambar-gambar microphone atau alat-alat berkaraoke.

Saya perhatikan dari dalam shuttle bus yang saya tumpangi yang terus melaju, saya juga melihat musholla, kemudian rumah tinggal dan lagi-lagi tempat karaoke yang berderet. Kontur tanahnya menurun, saya bisa lihat diatas tanah yang lebih tinggi terdapat bangunan-banguan tingkat yang lebih bagus dibanding sebelumnya yang menyediakan fasilitas karaoke.

Sungguh, saya tidak tahu sampai akhirnya saya bertanya pada mbak-mbak dengan dua anak yang duduk disamping saya "kita ada dimana mbak?", "simbir" jawab mbaknya singkat "kenapa banyak tempat karaoke?" mbak itu tersenyum "ini wilayah lokalisasi mbak", mulut saya menganga i see gumam saya. Saya bergumam atas ke-naive-an saya yang mengira penduduknya hoby berkaraoke, mengapa tempat karaoke identik dengan bisnis asik-asik?, saya tahu jawabnya hanya mengapa di kampung ini berderet tempat karaoke dari yang bentuknya nyaris mirip gubug reot sampai bangunan rumah permanen.

Ini kali pertama saya melewati tempat lokalisasi di Indonesia, jangan samakan dengan red light district di Amsterdam- lah jauh bedanya. Entah lokalisasi ini resmi atau tidak. Saya bercerita kepada Chim tentang lokalisasi yang saya lewati, chim mengaku tidak pernah tahu atau bahkan mendengar tempat ini padahal dia sudah cukup lama menetap di salatiga.

Rumah bercat biru itu juga tertulis tempat karaoke, saya ambil gambar dari dalam mobil yang sedang melaju

Comments

  1. Waktu SMA (1981) saat pelajaran olahraga Pak Guru kadang menyuruh kami lari cross-country lewat Sembir. Sudah terkenal, tapi waktu itu bangunannya masih gubuk reyot atau papan. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hallo kutukamus terimakasih sudah berkunjung. Jadi sebenarnya namanya beneran sembir seperti yang saya temukan di google ya? Trimakasih infonya. Itu pettama kali ke salatiga dan melewati sembir. Banyak tempat karaokenya :D

      Delete
  2. Aku pas nek onok konco main nang Suroboyo pasti tak lewatno Gang Dolly. Bukan e ngajak nggak genah, tapi Ngajak dia untuk merenung sesaat ketika melewati Aquarium Shahwat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku ga tau lewat gang iku mbak. Aku pas ndek redlight distrik yo isin ndewe nggak gelem ngwasi, jare koncoku "ngapa nunduk aja ru? Liat aja gapapa asal jangan pelototin

      Delete

Post a Comment

Popular Posts