Friends are the family we choose for ourselves



Friends are the family we choose for ourselves” - Edna Buchanan

Saya tidak tahu siapa Edna Buchanan, tapi saya menemukan quotes ini dari sini. Lalu, bagaimana awalnya? Apakah karena kesukaan dan hoby yang sama? Keinginan atau cita-cita yang sama?. Tapi memang pertemuan dan perpisahan adalah jodoh, takdir. Karena beberapa alasan, mereka yang berpasangan memutuskan untuk menikah dilegalkan secara hukum agama dan negara, ada tertulis hitam diatas putihnya (abaiakan pernikahan dibawah tangan/ siri). Sebenarnya saya akan bicara tentang pertemanan. Buat saya ada  beberapa kategorinya, teman saja, teman baik, teman terbaik (sahabat).

Kategori teman saja ini, teman yang tidak selalu memiliki kedekatatan, biasanya saling bertemu silaturahmi tapi sampai disitu saja, teman baik mungkin mereka nyaris mendekati teman terbaik dia mengenal kita saling bertemu memberi kabar tapi sampai disitu saja ke-duanya tidak ada perasaan emotionalnya dengan keduanya tidak ada klik-nya ,  namun dari itu semua ada teman terbaik yang layaknya saudara bahkan kita saling mengenal keluarganya.

Saya harap saya tidak memperlakukan dengan buruk kepada mereka yang saya sebut teman, teman baik atau teman terbaik ataupun sebaliknya. Ya, saya memang mengkategorikan jenis pertemanan bukan bermaksud mendiskriminasikan diantaranya hanya intensitas hubungannya pun berbeda. Sering saya mengingat-ingat bagaimana saya bertemu mereka? . Ada yang bertemu karena sering naik komuter bersama, ada yang bertemu di kereta dalam perjalanan mudik saya, teman karena ngontrak di tempat tinggal yang sama, teman sekolah di TK sampai universitas , teman kursus, teman kantor, teman ketika bertemu di toko buku, dll.

Masing-masing dari mereka ada yang memiliki kesamaan dengan saya, ada juga yang tidak, tapi kami masih tetap berteman. Beberapa menjadi sangat dekat hingga saat ini, entah karena apa,  Kesamaan yang sama? Sama-sama menyukai buku meski genrenya berbeda, musik? kami mendengarkan dan menonton konser musik yang sama, atau lain-lainnya.

Seorang kawan baik saya mengatakan bahwa saya adalah orang pertama yang diberitahunya perihal rencana pernikahannya, saya merasa bangga diberi kepercayaan ini sambil berdoa semoga dilancarkan rencana pernikahannya dan dijadikan keluarga yang bahagia. Kawan baik saya yang lain sesama perantau, dia rajin berkirim pesan singkat menjelang akhir minggu “akhir minggu kamu main kerumah kan? Aku bikin rawon “ (kadang bilang bikin pepes, rujak atau macam dan pasti menghubungi saya). Dan Kawan-kawan baik saya yang lain yang membuat saya mudah menjadi diri saya sendiri karena mereka menerima tulus apa adanya.

Pernah juga hubungan pertemanan ini diuji, ada naik-turunnya juga, hey… rambut boleh sama hitam tapi pendapat juga boleh beda, yes? , kalau sudah begini butuh lapang dada saling memaafkan, tidak mudah memang karena kadang keadaan juga tidak akan sama (we love you dearly). Kalau sudah begini, terima saja kesalahan kita sambil berdoa semoga kelak hubungannya lebih baik, entah kapan, tapi musti bisa seperti sebelumnya lagi.

Sempat ngobrol dengan seorang kenalan entah awalnya ngobrol tentang apa, dia bilang “saya tidak punya teman baik”, saya kira setiap orang pasti punya, saya belum pernah menjumpai jenis orang seperti ini, mungkin dia sulit percaya? Kadang orang bereaksi tertentu berdasarkan pengalaman nggak mungkin juga kita nge-judge dia bukan tipe orang tidak ramah. “how come?” tanya saya, “saya memperlakukan semua teman sama, equal” balasnya. Entah, tapi seperti saya bilang sebelumnya memang untuk menyebut teman baik itu juga musti ada Klik-nya, kayak jodoh pasangan aja.

Terharu rasanya ketika akhirnya kami bisa pergi ketempat yang selalu kami inginkan “akhirnya kita kesini juga Ru!” kawan baik saya ini memeluk bahu saya ketika kami berada diatas pesawat menuju Schippol, sejak dulu kami menyukai semua tentang Belanda, mempelajari bahasanya, membaca buku tentangnya, jatuh airmata saya, saya kehilangan sebelah kotak lensa mata sepertinya keluar dari bola mata saat saya menyeka mata saya. I wouldn’t make it without her.


Ru (green jacket) &Rie (blue jacket)

Saya masih agak takjub dan keheranan saja, tapi bisa menerima pengakuan orang yang saya kenal koq ini tentang tidak dimilikinya kawan terbaik karena dia memperlakukan semua temannya sama. Padahal saya masih merasa ada kedekatan emotional dengan teman-teman saya meski kami terpisah ribuan mil,  segala alat komunikasi dan sosial media memudahkan hubungan kami.  Itu sebab pula saya membedakan antara sekedar teman, teman baik, atau teman terbaik. 

Dan saya memilih berkawan dengan yang selalu mendorong saya pada kebaikan. "Berkawanlah dengan orang yang sikapnya (membantu) kita untuk bangkit (dari keterpurukan), membuat kita lebih bersemangat, lebih memotivasi merenda hidup yang lebih baik, lebih terdorong menanam manfaat lebih banyak lagi pada semesta, lebih giat mengais rezeki, lebih rajin mencari  ilmu, dan sebagainya. dan ucapannya selalu menunjukkan kita pada Allah swt" saya temukan quotes itu dari  honeymoonbackpacker.wordpress.com di sini, dan berpikir oh wow itu semua ada pada kawan-kawan saya.

Win,Ru,Fe
Tidak ada surat legal yang disahkan negara atau apapun yang mendeklarasikan hubungan pertemanan kita, tidak ada perjanjian kontrak  hitam putih diatas kertasnya , tapi layaknya keluarga, mereka ada disaat senang dan sedih. Berbahagai ketika kita bahagia, memberi semangat ketika kita susah. Bukankah Friendship is a special kind of love,?

 



Comments

  1. hooh, itu judul nemu, kalo otak lagi bener :D. thx

    ReplyDelete
  2. Kadang orang yang ngga punya temen deket itu mungkin dibawah sadar ngga membuka diri untuk bertemen. Sebabnya bisa macem-macem: trauma pernah konflik, partner yang ngga welcome dengan temen, pemalu, ngga percaya diri dsb.

    Friends come and go. Those who stay are gold.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mbak yo, iya saya sepakat. Hanya, kadang mikir apa mereka gak kesepian ya? Atau sudah terbiasa? . Bersyukur punya teman-teman meski jauh tapi selalu merasa dekat. And they are Golds :D

      Delete
    2. Mungkin memang kesepian tapi terima keadaan. Atau memang orangnya bersifat solitaire, biasa menyendiri.

      Delete
    3. This comment has been removed by the author.

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. duh, jari2 saya gak sengaja nyentuh menu remove. tapi benar yang mbak yo bilang, saya ada kawan yang biasa sendiri (saya juga terbiasa) tapi ya itu, saya masih punya kawan2 baik. saya juga tidak suka bertanya terlalu detail , kalau seseorang bicara saya dengarkan, kalau tidak bicara saya tdk memaksa. nice sharing mbak yo terimakasih :D.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts