Use less paper

Ada baiknya kita tidak menganggap hal kecil itu nggak penting, saya kira kita bisa merubah hal yang besar dari yang kecil terlebih dahulu, lagipula ini masalah kebiasaan yang bisa kita rubah agar lebih baik. Saya mau bicara apa sih? 

Begini... dulu saya tidak peduli dengan kertas-kertas struk belanja yang saya terima dari kasir ketika berbelanja banyak barang, struk yang saya terima biasanya memang saya kroscek antara barang dan harga, kemudian struk saya simpan untuk referensi belanja bulan depan itung-itung anggaran, belanja sedikit? iya saya juga terima struk nya, masukin kantong celana atau tas yang ternyata hanya bikin sampah, atau biasanya juga langsung saya buang setelah keluar dari toko/ mini market/ supermarket, jadi? nggak penting kan?.

Jadi kalau belanjaan banyak mungkin masih kita perlukan struk yes? tapi coba kalo belanjanya hanya satu atau dua barang yang bahkan bukan barang besar dengan harga tidak lebih dari 15ribu setiap itemnya, lama-lama saya koq mulai sayang ya dengan kertas struk yang keluar dari mesin di meja kasir? meski ukurannya hanya kecil sekitar 5X10cm . Di Kongsberg, karib saya ini menjelaskan bahwa setiap berbelanja kasir akan bertanya apakah struk perlu dicetak?

Sejak itu saya mulai memperhatikan, ketika setiap diajak mampir belanja didepan kasir mereka bercakap dalam bahasa Norsk teman saya menggeleng dan hanya menerima kembalian uang dan barang ,menurut teman saya si kasir tadi bertanya perlu struk nggak?.

Well, meski tidak semua toko di Kongsberg memberlakukan demikian, tapi  saya koq kagum ya dengan cara mereka, buat saya mereka sangat efisien dalam menggunakan kertas, pengiritan yang bijaksana kali ya, lumayan mengurangi cost belanja kertas struk yang kadang bahkan tidak penting bagi si pembeli terlebih pembeli macam saya yang suka nyampah di tas pribadi, namun sisi lainnya tentang isu lingkungan, tentang  use less paper, saya tidak hendak sok kampanye Go Green koq, hanya, kita bisa menghindari hal yang mubazir ( = hal percuma).

Beberapa kali saya ke toko mart mart-an itu saya bilang saya tidak butuh struk karena hanya belanja satu barang jadi tidak perlu dicetak, tapi struk tetap tercetak juga. Saya bisa paham mungkin sistemnya tidak bisa melakukan permintaan itu sementara dengan mencetak struk berarti secara otomatis mesin komputer juga melakukan pencatatan transaksi. Beda ya dengan toko kelontong biasa yang tidak perlu memberi struk.

Menurut saya seharusnya dengan hal kecil ini kita bisa merubah kebiasaan kita dan bisa lebih ramah dalam penggunaan kertas toch?. Memang mulainya dari diri sendiri, namun saya jadi mikir dan berharap ada yang melakukan perubahan ini juga, jadi kita bisa menggunakan kertas dengan bijak, mengurangi penebangan pohon  mengurangi limbah dan juga sampah.

Comments

  1. Nice post, Ru. Aku sering lupa kalau struk belanjaan dan gak tiap toko tanya perlu tidaknya cetak struk. Biasanya setelah dicetak baru tepok jidat :(
    Yang lebih sering ingat sih kantong palstik belanjaan. Sekali ke Carrefour Bali yang di Sunset Road Ru, kasir menawarkan tas plastik utk dibayar. Bagus deh. Blm nemu toko lain yg gitu di tempat lain.

    ReplyDelete
  2. Hey fei thx. Kayak mesin atm aja ya mustinya setiap slese transaksi ada opsi mo cetak struk atau tidak. Sayangnya di tempat belanja itu blum ada sistem begitu atau bahkan ditoko buku itu loh...pdhal beli buku cuma satu toh di bukunya juga dah ditempel barcode harga. Masak iya beli buku baca di toko kelontong? Hehehe thx dah mampir. Aku tunggu ceritamu

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts