Pulang

Ah... nggak jelas saya malam ini, mungkin karena tiba-tiba kangen rumah pengen pulang. Masih untung masih kepikir inshaa allah bisa pulang diterima handai taulan (hadduh handai taulan), bandingkan dengan yang punya rumah jelas asalnya tapi dirampas haknya dan nggak bisa pulang itu nyesek, sakit ati banget.

Sudah lama baca tentang exile Indonesia di satu koran nasional, saya mikirnya kalau mereka sudah memiliki rumah lain di negeri lain passport lain kenapa mereka masih nggak bisa pulang meski punya uang?.


Sebuah film dokumenter yang di tayangkan satu TV nasional (baru) bercerita tentang para exile di luarnegeri ini. Sedih saya melihat mereka yang sudah sepuh berharap bisa pulang at least untuk yang terakhir kali setelah berpuluh tahun hidup di negeri orang yang mau menerima  mereka, tapi mereka tak bisa, mereka tidak diterima karena stigma negatif yang disematkan pada mereka. Duh, politik itu kejam nian.

Saya tidak akan menjelaskan definisi exile atau siapa mereka karena pasti sudah banyak tersebar di google. Juga tak akan menuliskan jalan cerita fiksi ini seperti apa.

Buku punya sendiri
Buku karya Leila S Chudori sebenarnya sudah lama terbit sayapun sudah lama bacanya. Fiksi ini menjelaskan mengapa para exile di luar negeri tidak bisa pulang bahkan untuk sekedar berkinjung melihat keluarga yang sudah lama ditinggalkan. Saya tidak mudah percaya cerita, namun yang ini beda karena ada yang bisa kita dapatkan dari buku fiksi berkualitas.

Sebeneranya saya tidak terlalu tertarik dengan satu kisah romannya di fiksi ini, tapi ini adalah genre fiksi yang saya suka banget ada kupasan sejarahnya yang juga dibuat berdasarkan riset. Bahasanya? jangan tanyalah kepiawaian Leila mengolah menyusun kata per kata terlebih bu Leila sendiri juga seorang wartawan senior. Baru baca beberapa halaman dan saya nggak bisa naruh untuk ngelakuin hal lainnya, musti segera habis dibaca.


Comments

Popular Posts