This is where Iam. Sebuah fiksi yang membuat saya memikirkan Somalia

Bagaimana menggambarkan Afrika? Panas dan gersang? Tak indah? Konflik?.  Meski sebenarnya ada beberapa wilayah di daratan afrika hidup tenang dan menjadi destinasi wisata, sempat terganjal konflik dan mulai bangkit kembali dari keterpurukan. Tunisia dan Mesir, sudah mulai  mulai kondusif. Marocco, membayangkan cassablanca dulu dan sekarang yang masih tetap popular. Afrika selatan, tak ada  isu rasisme, diskriminasi berkat perjuangan alm. Nelson Mandela.

Bagaimana dengan Somalia? Postingan saya sebelumnya yang nggak jelas nulis tentang rasa penasaran terhadap negeri ini gara-gara  sebuah cerita fiksi / novel yang sedang saya baca ini. Saya mulai googling tentang kondisi terakhir di Somalia. Konflik yang entah kapan mereda, hingga saat ini bermunculan kelompok-kelompok yang disebut extremist.

Secara tak sengaja nemu kisah Iman si supermodel yang kemudian menikah dengan rocker asal U.K David Bowie masih cantik di usianya menjelang 60-an adalah berasal dari Somalia kisah dan wawancara bisa dibaca di sini .

This Is Where Iam sebuah Novel yang ditulis Karen Campbell dengan 466 halaman, ini yang membuat saya penasaran tentang Somalia. Bagaimana saya nemuin buku ini? pas ke Mall mampir toko buku dan lihat sepertinya lumayan keren, nggak saya beli karen saya kira belinya bulan depan aja sebagai "hadiah untuk diri sendiri", ternyata seorang kawan membawa kejutan dengan bawa buku ini sebagai hadiah menjelang ulang tahun katanya. Catatan  ini adalah sekedar pengalaman saya membaca fiksi ini.
                                   

Dua tokoh karakter utama dalam cerita fiksi ini akan bertutur , Abdi seorang refugee asal Somalia yang memiliki seorang anak berusia 4th bernama Rebecca yang tidak pernah bersuara, dan Deborah seorang janda dan seorang volunteer yang menjadi mentor Abdi. Keduanya kehilangan orang-orang yang mereka cintai dengan cara yang berbeda, mencoba untuk move on, bercerita tentang perasaan bersalah dan persahabatan.

Saya belum menemukan terjemahan Indonesia dari buku ini, jadi dengan keterbatasan bahasa Inggris saya, musti membaca beberapa halaman berkali-kali. Terlebih ditulis dalam bhs Inggris logat Scottish - Glaswegian (adakah perbedaannya? Karena ibukota Scotland adalah Glasgow?) saya musti hati-hati untuk mengartikan  cerita ini, contoh kecilnya saya bisa membayangkan bagaimana mereka mengucapkan " Nae worries", atau "wee bit" dengan logat mereka.

Bagaimana rasanya menjadi seorang yang harus keluar dari negeri sendiri berharap kehidupan yang lebih baik karena kampung halaman  dilanda konflik tak berkesudahan. Berada di suatu tempat yang sama sekali berbeda dengan kampung halaman, tak tahu bahasanya, tak ada teman apalagi kerabat  sedang untuk kembali pulang tak mungkin. Merasa sendiri dan terasing? pastinya begitu.

Perasaan di diskriminasikan tak mampu berbuat apa-apa lebih memilih mengalah karena ingin bisa bertahan dan bisa diterima.  Masa lalu yang sering menghantui menimbulkan trauma pada diri Abdi. Sementara kehilangan seseorang yang sangat dicintai dan dihantui perasaan bersalah Deborah di masa lalu  mencoba menebusnya dengan membantu Abdi sepenuhnya.

Saya selalu tetarik dengan cerita pertemanan, buat saya berteman bukan hanya antara "aku dan kamu", tapi juga aku dan keluargamu. Sama seperti Deborah yang menjadi sangat dekat dengan Rebecca dan betapa dia berusaha agar Rebecca mau berbicara karena  gadis kecil ini sesungguhnya tidak ada masalah dengan pendengaran.

Buku ini dicetak pertama tahun 2013 dan sepertinya belum lama sampai di Indonesia, kayaknya tepat aja buat saya bacanya di tahun ini ketika beberapa waktu lalu dilangsungkan referendum di Scotland "should Scotland be an independent country?" dan hasilnya NO, artinya Scotland masih tergabung dengan Inggris Raya. Saya enjoy membaca kisah fiksi  ini.

Comments

Popular Posts