Di social media karena

Catatan saya yang ini sudah lama kesimpen di draft aja, tadinya males mo di posting karena terlalu curhat padahal tulisan saya yang lain juga banyakan curhatnya. lagipula saya sempat mikirnya siapa juga yang peduli saya di social media atau nggak? :D . Saya punya beberapa akun di media social, pastinya Facebook, blog ini, watsapp dan instagram baru-baru aja. Di kerjaan divisi yang baru kolega nanya soal akun path, saya nggak punya dan nggak niat bikin udah kebanyakan akun medsos. Pagi-pagi ini saya deactivate akun facebook karena udah males, males karena facebook lagi rame, yang satu memaklumkan dan memuja setinggi angkasa  yang lain mencela mati-matian.  Bosan. Masih butuh sih itu karena saya ada beberapa teman yang cuma bisa ngobrolnya di facebook, nggak tau berapa lama saya deactivate.

facebook
Padahal sempat berkali-kali menon-aktifkan akun facebook, terakhir masa pemilu pilpres. Tahu dong kalau segala caci maki masing-masing simpatisan beredar di social media macam facebook. Rasanya saya muak, dan pengen pemilu pilpress segera berlalu. Meski….meski prediksi saya cacian akan terus berlanjut sampai yang terpilih selesai di lantik sebagai presiden, dan ternyata masih berlanjut sampai saat ini setelah presiden dan wakil dilantik. Ya sudah lah, pro-kontranya itu tidak hendak saya tulis disini.

Kawan saya bilang, nggak usah peduliin dengan mereka yang hobi caci-maki, kalo ada akun facebook ke untungannya kita akan tetap bisa liat apdet teman-teman dah nikah atau belum, anaknya berapa, baru pindah kontrakan rumah, pindah kerjaan, bikin rumah, lunas cicilan rumah, lagi makan ini itu, pergi kesini kesitu. Ada yang norak ada yang Seru &lucu aja sih liat itu semua. Akhirnya balik juga saya ke facebook.

Tapi yang paling penting dari alasan saya pakai medsos yang ini adalah, Saya punya 2 keponakan dan sepupu yang mulai ABG dan mulai punya akun facebook. Orang tua mereka tidak punya akun social media apapun. Dan saya merasa musti jadi mata-mata buat mereka. Ada fungsinya juga sih saya mata-matain mereka, pernah lihat salah satu sepupu saya share soal pemilu pilpress dan langsung saya minta remove dari timeline-nya, saya bilang kalau mau ngobrol soal itu sama ibuk dan ayah atau dengan saya saja, saya nggak mau  menjadi perdebatan kusir di facebook antara dia dan teman-temannya. Atau saya minta mereka matiin facebook ketika saya lihat mereka masih sahut-sahutan komen di timelinenya pas jam 11 malam sedang besoknya mereka musti sekolah. Otoriter? Uhmmm menurut saya tidak.

Dengan para  sepupu baik yang mulai ABG atau yang udah pada nikah dan 2 keponakan saya,  kami bikin peraturan tak tertulis dalam ber-facebook:
  • Tidak boleh ngeluh di facebook, kalo sedih nggak boleh di umbar, nggak perlu bikin orang lain ikutan sedih urusan kita
  •  Mengumpat adalah terlarang, apalagi mengumpat orang yang nggak ada di friendlist kalau berani musti ngomong langsung ke orang yang dituju tanpa perlu perantara. Nggak perlu pake acara nyindir-nyindir orang dan nyinyir berlebihan.
  • Pamer, well saya sempat khilaf, jadi nggak boleh lagi.
  • PDA Public Display Of affection sama pacar atau suami/ istri, khususnya terlarang buat yang punya pacar. Bersay hello dengan panggilan “sayang" itu hak mereka, maksud saya jodoh kita kan nggak tau ya, nyantai aja soal pacaran mah jangan kayak "dunia berasa milik berdua". 
  • Tidak boleh pamer foto mesra dengan pacar.  sahut-sahutan komen di facebook soal terimakasih ini itu, maksud saya hey... ada sms atau watsapp kan? gunakan saja itu.
  • Berdoa, berdoa hanya urusan kita dengan sang pencipta kayaknya nggak elok diumbar.
Intinya ber-facebook buat seneng-seneng aja, berbagi hal yang positif karena energi positif kan menular ya.

pinjam dari : www.freepik.com
Instagram
Sebelumnya sudah sering dengar soal instagram ini sih, tapi mulai download aplikasi di henpon atas persuasi teman, karena kan saya suka lihat gambar-gambar orang, asal bukan gambar yang keseringan selfie aja. Dulu jaman masih kuliah, matakuliah fotografi dapat nilai minim banget. Suka heran bagaimana orang-orang ini bisa bikin foto bagus? Setelah punya akun instagram wuahhh suka takjub dengan postingan orang-orang yang punya hasil jepretan bagus entah dari kamera smartphone atau digicam atau pun SLR.

Sempat surprise ketika saya posting satu foto lama yang saya ambil dengan kamera digital kuno saya berhastag #Bromo # Indonesia,  ternyata muncul tanda lope/love (suka) dari fotografer favorit  yang saya follow. Karena terlalu lebay saya posting status di facebook, salah satu komen dari teman saya adalah “akun isntagrammu di follow nggak?” . Humm......Saya nggak peduli dan nggak nyari follower, meskipun mungkin….mungkin… si fotografer ini ngasih tanda “suka” karena hastag Bromo atau Indonesia yang bikin dia ingat atau mungkin dia bercita-cita ketempat ini suatu saat? Sapa yang tahu? Dan saya nggak perlu cari tahu juga, dia terlalu sibuk jawab pertanyaan saya, saya anggap dia mengapresiasi foto saya dan itu udah bikin saya seneng koq.

Watssapp
lebih murah dibanding sms, bisa kirim gambar video dan musik.

Blog ini, dengan kualitas tulisan acakadul, banyakan ngeluh dan curhat kurang informatif. Buat saya yang hoby blogwalking kadang materi yang di share nggak terlalu penting, buat saya ya.. saya suka merhatiin gaya bahasa dan tulisan yang digunakan para blogger disini. Sayanya masih musti terus belajar dan belajar dan terimakasih sudah mampir.

Maaf-maaf kalau saya tidak follow back akun instagram teman-teman yg sudah follow akun saya karena nggak sering juga posting2 foto di instagram,  saya terlalu sibuk liatin foto-foto orang-orang dg akun traveler foodie books atau apapun yang menarik minat saya. 

Comments

Popular Posts