A Fort of nine towers, Qais Akbar Omar

Februari kemarin saya ke toko buku maunya baca yang ringan happy macam fiksi Pop atau chicklit, sudah menimbang-nimbang antara fiksi ini dan itu ternyata mata saya tertuju pada satu cover warna jingga. Ingat lagi buku ini yg sudah saya simpan di kotak buku ketika kemarin ada berita pemboman gedung parlemen di Kabul beritanya   bisa baca ini.

Saya curang, untuk memastikan saya  membeli bacaan bagus dan ga kecewa sayang duitnya, akhirnya ngintip di goodreads berapa banyak bintang yang dikasih para reviewer goodreads, Cuma liat bintangnya doang dan ahha! lebih banyak bintang 4 dan 5-nya.


Afghanistan, mendengar nama negara ini yang ada dikepala saya adalah perang, Taliban, burqa, ya... saya belum tau apa-apa tentang negara ini masih sempit pengetahuan saya. Konon sebelum segala invasi dan pecah konflik Afghanistan merupakan negara berkembang tidak ada ketakutan berada di jalan untuk sekedar pergi berbelanja, laki-laki perempuan anak-anak dan dewasa bisa pergi sekolah dan bekerja. Bisa googling dan diintip foto-foto tentang Afganistan sebelum perang  disini disini atau disini

Buku berjudul A fort of nine towers, ditulis oleh seorang Afghan- Qais Omar Akbar. Cetak dalam bhs Inggris, saya belum menemukan versi Indonesianya di toko buku. Sebuah memoir tentang penulis dan keluarganya ketika Afghanistan mengalami pecah perang sipil. Buku setebal 389 halaman ini berkisah ketika Qais menjelang ABG (mungkin sekitr 10th-nan) hingga kini  dia dewasa.

Ceritanya, keluarga Qais adalah golongan menengah. Sang kakek mantan banker yang belajar perbankan secara otodidak dan juga pebisnis mereka memiliki toko karpet di Kabul, ayahnya adalah seorang guru dan ibu yang bekerja pada sebuah Bank di kota Kabul kala itu.

Ketika pecah perang sipil demi menyelamatkan keluarganya si kakek memutuskan agar sekeluarga besar meninggalkan rumah besar mereka untuk pindah ketempat yang lebih aman.

Dengan satu-satunya mobil yang dimiliki diisi lebih banyak orang menuju tujuan baru mereka, sebuah rumah milik sahabat keluarganya dimana tidak terjadi kontak fisik antar faksi kecuali suara dentuman bom dari kejauhan. Dari rumah inilah mengapa Qais memberi judul bukunya a fort of nine towers.

Ayahnya harus dua kali bolak balik rumah-dan tempat tinggal baru untuk mengangkut saudara-saudaranya yg terdiri dari selain keluarga inti Qais ada paman dan bibi juga para sepupu Qais. sepupu yang sangat dekat dengannya bernama Wakeel baginya Wakeel adalah kakaknya, wakeel sendiri tidak memiliki ayah dia hanya bersama ibunya menantu dari kakeknya, ayahnya menghilang entah dimana tak ada berita.

Pak haji pemilik rumah begitu baiknya meminjamkan rumahnya untuk ditempati Qais dan keluarga besarnya, ketika perang semakin merembet ke daerah tempat tinggal mereka, keluarganya sempat berpikir meninggalkan Afghanistan menuju Pakistan sayangnya selain hrus memiliki banyak uang untuk menyuap petugas perbatasan mereka mengalami banyak kendala termasuk segala intimidasi.

Meninggalkan keluarga besarnya yang lain, sang ayah mengajak mereka mencari tempat yang lebih aman menuju rumah bibinya di kota berbeda dengan mengendarai mobil melintasi beberapa kota di Afghanistan bertemu suku nomad Afghan "kuchi" dan menjadi bagian dari mereka, atau ketika terpaksa harus tinggal dilembah Bamiyan tempat dimana patung Buddha terbesar pernah ada, patung ini dihancurkan oleh Taliban pada Maret 2001.

Ketika Qais semakin dewasa dan berpikir bagaiman harus membantu keluarganya, ditengah kesulitan yang mendera Qais bertemu keluarga pembuat karpet, disana dia menemukan kecintaanya membuat karpet belajar dari seorang bisu yang dia kagumi.

Membaca buku memoir ini, membuat saya trenyuh dan getir meski ada bagian saya bisa tersenyum, tetapi bagaimana penulis harus kembali mengingat kenangan-kenangan akan konflik yang terjadi bertahan ditengah gempuran, dari keluarga berkecukupan dan kemudian harus kehilangan harta (tidak semua sih mereka masih memiliki mobil), tidak mudah pasti ya?. Th 1992 faksi Mujahidin mengambil alih pemerintahan setelah Russia meninggalkan Afghanistan . Perang/ konflik yang terjadi selama bertahun-tahun dan entah kapan berakhir hanya bikin kehilangan dan hancur semuanya.

Kekerabatan di Afghanistan kayaknya juga  nggak jauh beda dengan Indonesia dengan falsafah Jawa “mangan nggak mangan asal kumpul”, meskipun si kakek sempat berubah pikiran demi keselamatan keluarganya, mungkin sifat Asia memang begitu apapun yang terjadi keluarga harus tetap bersatu.

Membaca ini ngingetin saya dengan " a kite runner " nya khaled hossein dengan mainan populer anak2 Afghan  layang-layang yang cara permainannya mengingatkan saya dengan teman-teman masa kecil di kampung, juga hubungan persaudaraan antara Qais dan wakeel  dengan Amir dan Hassan. Bedanya a kite runner adalah sebuah fiksi sedangkan A fort of nine tower adalah memoir.

Menurut satu pe-review buku ini "if you read only one book this summer, make it this one", buat saya apalagi Ramadhan begini carinya bacaan yang manfaat dan  ini bisa menjadi salah satunya. 




Comments

  1. Aaaa pengen banget baca bukunya. Sejak baca novel-novelnya Khaled Hosseini, aku jadi merasa dekat sama Afghanistan. Yang paling melekat sih konfliknya yang gak pernah habis. Taliban, bahasa Farsi, Rusia, Kabul, Mariam, Laila, Rasheed, Hasan, Amir Agha, Baba, duh banyak lagi tokoh-tokoh kuat yang mewakili masyarakat Afghan.

    ReplyDelete
  2. Khaleed Hosseini novelnya memang menyentuh banget. Sebenarnya habis baca 3 novel khaleed hosseini buku perjalanan Agustinus Wibowo dan Qais Omar Akbar saya jadi pengen baca biografi Genghis Khan karena penasaran dengan suku hazara yg kayaknya lebih sering dapat tekanan.

    ReplyDelete
  3. selalu kebayang wajah2 Afganistan yang cakep2, disini kebetulan banyak pengungsi dari Afganistan, suka deh ngeliat muka2 mereka yang cantik dan ganteng, udah gitu rata2 pekerja keras, beda sama imigran dari negara lain, so far I experienced sih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baca cerita fe diatas saya jadi ingat foto terkenal yg dipublikasikan National Geographic gadis Afghan bermata hijau hasil jepretan fotografer Steve Mc Curry (ini hasil googling barusan hehehe), mbayangin ganteng2 & cantik2 nya mereka :)

      Delete
  4. Afganistan... aku juga kenal negara ini dari novel-novel Khaled Hosseini dan buku perjalanan Agustinus... Ok buku ini masuk list must read-nya aku.. Tfs mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulisan Qais mnurut saya juga bagus. Sama-sama mbak haya :)

      Delete
  5. Kenangan dari tengah-tengah konflik; semoga buku yg berharga untuk dibaca ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulisan Qais bagus, dan dia belajar bhs. Inggris secara otodidak. Kemauannya keras.

      Delete
  6. Sayang banget yaaa patung budha itu di hancurkan, pasahal kan peninggalan sejarah. Btw kayak nya buku nya seru, ntar coba cari di gramed :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dan lembah Bamiyan yang luas itu penuh dengan warisan sejarah tampaknya sudah musnah :(.
      Iya semoga sudah ada terjemahan Indonesianya, maafkan lupa info sudah saya perbaiki di tulisan saya duhhh saya masih banyak kurangnya pdhal dah dibaca bolak balik sbelum publish.

      Delete

Post a Comment

Popular Posts