Oleh-oleh pulang kemarin

Awal bulan lalu saya pulang, adik sepupu menikah. Sebenarnya saya pulang lebih karena saya ingin bantuin ibu. Usai hajatan pasti ribet, menyimpan kembali perkakas yang telah dikeluarkan, bersih-bersih rumah.

Bukan soal kesibukan usai hajatan yang ingin saya ceritakan. Seperti biasa, tiap pulang saya sempatkan  main ke Sawah seberang jalan. Bukan sawah kami sawah entah milik siapa. Kadang pagi hari setelah subuh, atau sore hari menjelang mentari terbenam.

Sekedar melihat rumput-rumput liar yang berembun, juga sungai kecil sepanjang persawahan melihat capung anak kodok atau kecebong di genangan air sawah ohh saya melihat seekor dua ekor (?) Burung dengan sayap berwarna biru merah cantik terbang melintas jauh diatas kepala saya, saya dibuat tekejut karena sekarang ini burung secantik itu jarang sekali bisa terbang liar pasti sudah diperjual belikan dan tinggal di sangkar tanpa bisa bebas terbang.

Beberapa kavling sawah sudah berdiri rumah, padahal 10-15 tahun lalu hamparan sawahnya masih cukup luas. Kebutuhan tempat tinggal membuat sawah dipedesaan semakin berkurang saja.

Selain melihat persawahan di kampung saya juga sering memperhatikan Sungai. Sungai tempat saya dulu bermain-main bersama kawan pada jam tidur siang sepulang sekolah (dan ibu pasti marah kalau kami keluar rumah seharusnya pulang sekolah istirahat, karena menjelang sore kami musti pergi mengaji di rumah bu ustad dan malam hari lepas maghrib kami musti belajar. Tanpa tidur siang, kami pasti mengantuk saat belajar). Debit air sungai tidak lagi setinggi dulu. Entah karena kemarau yang berkepanjangan ini?, rasanya nggak juga, karena kalau toh pulang pada saat musim penghujan saya perhatikan sungainya semakin dangkal kecuali usai hujan lebat.

Agaknya dimana-mana pemilik motor setiap tahunnya semakin bertambah banyak saja, bagus juga sih setiap keluarga punya kendaraan operasional mereka. Karena tidak bisa mengendarai motor dan sayapun tak punya motor, ibu lebih sering meminta saya naik angkot kemana-mana dibandingkan diantar adik dengan motor, alasannya “kasihan nduk, angkot sepi nggak kayak dulu. Semua orang punya motor”.

Sepulang bertemu dengan kawan di kota, saya transit ke terminal ganti angkot ke kampong. Terminal yang dulu ramai dipenuhi calon penumpang dan angkot segala jurusan tak lagi seramai 15-20th yang lalu (ya Tuhan sudah lama sekali), yang terlihat justru deretan Ojek  motor menawarkan tumpangan. Sesuatu yang tak pernah ada dahulu atau sayanya yang tidak memperhatikan?, mungkin karena sepeda motor juga lebih cepat menjangkau tujuan dibanding naik angkot yang musti nunggu penumpang penuh terlebih dahulu, mungkin semakin banyak orang memiliki kendaraan pribadi dan malas menggunakan kendaraan umum ?.

Dan, diujung sana tampak pegunungan mengelilingi desa saya Bromo & Semeru yang konon adalah primadona di tanah jawa.














Comments

  1. saya juga nih ru kalau pulang kampung ke kampung nenek tinggi air sungainya tidak setinggi dan sederas yang saya ingat...

    btw bagus-bagus fotonya... :)

    salam
    /kayka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo baca2 artikel memang skarang kita sudah kekurangan air bersih sih ya :(.
      Awww fotonya? Terimakasih mbak Kayka lagi belajar moto pede aja di pajang di blog.

      Delete
  2. Kampung masa kecil saya juga punya sungai. Dulu waktu saya SD airnya jernih dan bersih.. kalau kami menyelam bisa melihat batu-batu putih juga beberapa ekor ikan atau udang yang berenang.. sangking jernihnya. Namun sekarang, keruhhhh parah! Beberapa kali banjir bandang karena hutan di atasnya sudah ditebangi.

    Enjoy pulang kampungnya mbak Ru :) ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya ngebayangin jernihnya sungai di kampung mbak Haya pasti menyenagnkan. Tapi menyedihkan kalo keruh bgitu, dan penggundulan hutan itu kapan manusia sadar dan berhenti?

      Delete
  3. Aku kalau nonhkrong di sawah suka banget mencium bau-bauannya, Mbak Ru. Lumpur, rumput, jerami, kering, dan kadang bau belalang...Dan itu melihat foto ulat bulu, aku langsung gatal-gatal hahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan suara aliran air sungai ya mbak evi. Ahahahaaha maaf bikin gatal-gatal liat ulat bulu, itu pas lagi duduk2 diatas rumput tiba2 liat ulat bulu, di jepret deh :D

      Delete
  4. Hallo Mbak Ruru :)
    wahh foto2nya bikin mata segar .. saya suka tulisan ini, bikin ide tiba-tiba muncul yang sedari tadi blogwalking hihihi .. mbak, saya baca link blog mbak dari blog nya mbak Deny yang nulis tentang Inburgeringsexamen http://www.conedm.nl/denald/?p=317 .. mbak masih ada buku-buku tentang bahasa Belanda gak? kalau masih boleh kah saya beli mbak? terima kasih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hallo Ericka,
      Terimakasih sudah mampir dan terimakasih complimentnya. Saya dah mampir blog Ericka bagus, sambil cari alamat e-mail gak nemu atau mata saya yg siwer ya? Saya respon via email saja, tolong berikan alamat e-mail Ericka. Terimakasih.

      Delete
  5. Pemandangan yang ada kayak di postingan ini makin langka sekarang. Sukaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih complimentnya dan terimakasih sudah mampir :D

      Delete
  6. Jadi sekarang sawah2 sudah banyak berdiri rumah yaaa #Sedih

    ReplyDelete
  7. Seger lihat fotonya, tapi geli lihat uletnya.
    motor sekarang kayak semut di jalanan Indonesia. Sempat kaget waktu pulang kampung kemarin, biuhhhhh berasa kayak jalanaa vietnam

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts