Nengok perkebunan


Pagi-pagi si adek udah ngajak jalan. Jam 5pagi yang sudah gak segelap dibanding Jakarta dikampung sayapun mulai tampak kehidupan. Si Adek dah siap-siap memakai baju lengan panjang dibungkus jaket, berkaos kaki dan memakai sepatu, kedua tangannya dibungkus sarung tangan bilangnya biar hangat, dia siap membonceng saya ke arah gunung Bromo memburu matahari terbit katanya.

Saya, cukup dengan kaos oblong dan jaket tanpa kaos kaki dan bersendal jepit, si adek melaju motornya ke arah Tumpang kemudian melaju ke gubugklakah jalanan ini yang sebelumnya saya sebut arah ke gunung Bromo. Jalanan masih cukup sepi, udaranya tentu saja dingin yang lagi-lagi saya bandingkan dengan Jakarta.

Mendekati perkampungan penduduk, sesekali adek menawarkan untuk berhenti “mau motret itu gak ning?” menunjuk pemandangan didepan kami, langit pagi yang berwarna jingga. Hanya sekali saja saya berhenti, beberapa kali saya memotret saat adek melaju motornya.

Beberapa jeep melintas dari arah berlawanan, mungkin wisatawan yang baru turun gunung Bromo atau mengangkut para pendaki yang baru turun dari semeru, tampak tas-tas pendaki disusun rapi dan diikat diatas kap jeep.

Melewati perkebunan dikiri-kanan sepanjang jalan, kami masuk pemukiman penduduk di pedesaan sudah tampak masyarakat mulai bersiap melakukan aktivitas, si adek mengarahkan motornya ke desa bernama  Duwet, tujuan kami.

Masih sepi pagi itu, hanya beberapa motor melintas dan sebuah mobil pick-up mengangkut alat semprot tanaman dan seorang yang duduk diatas bak pick-up terbuka.

Kami berhenti dan memarkir motor dipinggir jalan, perkebunan milik entah siapa benar-benar segar udaranya. Terlebih suara cicit burung dan kokok ayam dikejauhan, sempat direkam video oleh si adek dengan hape bututnya demi bisa mendengar suara burung-burung dan kokok ayam (maunya saya posting juga tapi entah kemana videonya).

Tanaman apel dan sayuran terhampar dikiri kanan jalan, saya bergumam pastilah pemiliknya ini berpunya lhawong tanah kebunnya luas banget. Beberapa kebun apel diberi pagar bambu pembatas, untuk menghindari tangan-tangan jahil begitu 'pikir saya. Pohon-pohon apel yang berbuah lebat namun  masih kecil belum waktunya panen.Malang kan dikenal juga dengan kota Apel, nah didaerah desa ini dan sekitarnyalah kebun-kebun apel ini banyak berada selain di wilayah kota Batu.

Kami berpindah kekebun lainnya, duhh berasa kebun milik sendiri, saya berasa sedang ngecek perkebunan dan bertemu karyawan. Kami ke kebun yang dibiarkn terbuka tanpa pagar bambu hanya berpagar tanaman yg tak rimbun, mungkin karena pohon aplenya  belum berbuah jadi aman saja tanpa pagar. 

Selamat pagi

Kebun apel dipagari bambu sekelilingnya
Diujung jalan situ terdapat pemukiman penduduk
Apel dibungkus kertas, ga tau kenapa, mungkin agar bisa cepat matang atau terhindar dari hewan (?)
Berangkat ke kebun

Berangkat sekolah



-Ru-






Comments

Popular Posts