Lebaran kemarin


Hari ini bulan lalu, ketika kami bersiap merayakan hari Idul Fitri keesokan hari. Akhirnya sampai juga dirumah, pengalaman mudik yang luar biasa lebih dari 50jam perjalanan, bagaimanapun akhirnya tiba dirumah juga alhamdulillah selamat dan tentu saja rasanya luar biasa senang.

Lebaran kemarin alhamdulillah semua ning saya bisa pulang, berkumpul dirumah.  Sebelum saya tiba, ibupun sudah membeli beberapa bahan untuk membuat kue. Lebaran kurang lengkap tanpa membuat kue-kue olahan sendiri, tidak banyak hanya dua atau tiga toples saja. Setibanya dirumah dan setelah istirahat sebentar saya membuat kue kering.
Baru beberapa jam tiba dirumah, setelan menempuh +50jam perjalanan saya langsung bergerak membuat kue diatas itu.
Libur lebaran yang cukup panjang plus akhirnya dapat izin cuti setelah lebaran benar-benar saya manfaatkan. Dirumah bersama ibu dan mbah putri, berkunjung kerumah kerabat juga tetangga. Lebaran tahun ini saya benar-benar menyempatkan berkunjung kerumah sahabat saya. 3 tahun lalu saya menghadiri pernikahannya, sekarang dia sudah memiliki 2 balita dan seorang anak angkat. Rasanya masih belum percaya, dulu ketika masih dikampus kami tidak banyak membicarakan tentang menjadi orang tua, hanya masa muda yang penuh dengan kesenangan, bicaranya tentang tempat-tempat mana saja yang akan kami kunjungi, tentang cita-cita tentang menjadi apa kami kelak , dan melihat dia sekarang menjadi ayah dan suami saya sudah menduga sejak lama dia seorang family man.

Bahkan sebelum pulang, sahabat saya dan istrinya mengajak mampir ke kampung coklat yang hari itu ramai pengunjung, lebaran kali ini bertepatan dengan libur anak sekolah jadi bisa diduga keramaiannya. Tentang kampung coklat bisa dibaca artikel yang ditulis oleh jalan2liburan.com disini.

sebenarnya lebih ramai dibanding yang terihat pada foto ini
Kota Malang sudah banyak perubahan yang lebih baik dan tentu saja semakin macet mengingat jalanan kota Malang yang tidak lebar. Saya ingat beberapa tahun lalu saya pulang, sepupu saya mengajak keliling dengan dibonceng motor  kami mampir di coffee shop favoritnya, semakin ramai saja kota saya, bahkan banyak tongkrongan semacam cafe yang variatif, padahal jaman dulu saya kuliah warung kopi sederhana depan kampus saja sudah sangat populer, bisa bayangkan tahun berapa itu? mungkinnyarissetengahabadlalu.

Mudik kali ini sahabat saya lainnya mengajak saya melihat kota Malang "mulai banyak dibangun taman disini" katanya. Sepulang kami bersilaturahmi kerumah seorang teman yang lain, dia mengajak saya melihat taman-taman yang tersebar dibeberapa sudut kota, kami mampir ke satu taman bernama  taman slamet karena terletak di jalan slamet yang merupakan kompelk perumahan lokasinya tidak jauh dari jalan ijen.

salah satu taman di kota malang Taman Slamet karena letaknya di jalan slamet
Mudik artinya mencicipi makanan yang tidak sempat saya cicipi di Jakarta karena tidak tahu dimana mencarinya, selain pastinya ibu saya memsakkan masakan rumah, sesekali juga jajan makanan diluar dan Ning saya juga sempat membelikan  lontong kupang  


Kawan saya lainnya mentraktir saya mie aceh, menurutnya gara-gara akun instagram saya yang memposting mie aceh ini bikin dia kepingin. Saya diajak mampir ke depot mie aceh di daerah sawo jajar, soal rasa menurut saya enak (pilihannya hanya ada 2,  enak dan enak sekali)  saya lahap dan menghabiskan seporsi mie aceh meskipun menurut kawan saya yang lainnya cita rasa mie acehnya sudah menyesuaikan dengan lidah jawa.



Yang paling saya suka adalah ketika bertemu seseorang dan melihat perubahan yang lebih baik dalam hidup mereka. Balak penjual sayur yang dulu berjulan dengan mengayuh sepeda, beberapa tahun kemudian dia membawa motor dengan keranjang sayur, beberapa tahun kemudian dia menjajakan sayurnya dengan mobil pick-up.

Tahun ini, suami istri dan seorang anak angkat mereka datang kerumah, suami istri ini dulu sering membantu bapak di sawah dan membersihkan makam keluarga. Dulu setiap pagi saya berangkat sekolah hingga saya masuk perguruan tinggi sering melihat mereka berboncengan dengan sepeda kayuh tua menuju sawah  menggarap sawah orang lain. Malam itu selepas Isya mereka datang kerumah berboncengan sepeda motor, anak angkat mereka yang mulai ABG juga membawa motor sendiri. Menurut mereka motor bekas ini dibeli dengan cara mencicil ke majikannya dipotong upah pembayaran menggarap sawah. Kami pikir ini luar biasa ketika seseorang akhirnya memiliki sesuatu yang lebih baik yang selalu mereka inginkan kamipun ikut senang.

Atau sepasang suami istri yang mengasuh cucu keponakan dari alm. Bude kali ini datang dengan seorang anak mereka yang lain, pasangan ini tidak dikaruani keturunan namun akhirnya bukan hanya cucu alm. Bude yang diasuh (mereka juga saudara sedarah dengan cucu keponakan alm. Bude) mereka diberi amanah mengasuh satu lagi anak yatim yang saat itu tidak dibawa kerumah karena masih bayi, total mereka memiliki 3 anak yang mereka asuh sejak masih bayi. Menulis ini saja membuat saya terharu, Allahswt itu Maha pemberi Rizki.


Setiap mudik lebaran selalu penuh kejutan, ada yang datang ada yang pergi,  ada yang jatuh ada yang naik. Mungkin jika bukan lebaran saya tidak akan banyak melihat berita dan segala perubahan yang terjadi. Itu sebabnya saya selalu bersemangat untuk bisa mudik lebaran dirumah.


Comments

  1. 50 jam di jalan? Kebayang letih dan stress nya mbak. Tapi masih sempat juga bikin kue kering ya mbak ^^ Senang pasti bisa kumpul dan lebaran bersama keluarga.
    Kampung saya pun berubah, juga orang2nya... Dulu rumah panggung masih banyak, skrg berganti rumah beton.. dulu pada bersepeda sekarang motor dan mobil

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya lebih dari 50jam. Capek memang ahahha. Tapi rencana biin kue lebaran tetp musti di eksekusi. Senang ya alausetiap pulang sllh ada perubahan yg lebih baik.

      Delete

Post a Comment

Popular Posts