Wellcome and Goodbye di airport

Karena dalam pikiran saya selalu ada keinginan untuk melihat banyak tempat sehingga saya sangat menyukai bandara atau airport dan saya rasa karena pesawat bisa menjangkau tempat tujuan lebih cepat dibanding bus atau kereta api, selain itu airport lebih bersih dibanding stasiun bus, bahkan untuk sekedar nongkrong di airport pun bisa jadi alternatif.

Bosan dengan jakarta yang dipenuhi mall saya pernah meluncur menumpang bus Damri menuju bandara Soekarno-Hatta. Tanpa tujuan? tidak mutlak benar, biasanya sekedar duduk di bangku kosong memperhatikan lalu lalang orang menebak-nebak arah tujuan mereka. Melihat para calon penumpang dengan tas troley, tas punggung, kardus-kardus oleh-oleh. Ada yang berjalan cepat-cepat dengan wajah panik, ada yang berjalan santai sambil bercanda tertawa. Kemudian saya akan pindah ke rumah makan sekedar minum es teh jeruk.

Di Gardemoen kami sedang menunggu jemputan dari suami kawan baik saya ini setelah kami puas berjalan-jalan ketempat lain, kawan baik saya Rie berkata "Kamu tau Ru? aku lebih suka arrival gate daripada departure, di arrival gate ada wajah-wajah  bahagia berpelukan karena saling bertemu. Di departure ada wajah-wajah sedih ada lambaian tangan perpisahan". Minggu sebelumnya kawan saya ini menjemput saya di bandara yang sama, Gardemoen, dia menghampiri dan memeluk saya ketika saya tiba di arrival hall "aku nungguin lama, kenapa? aku kuatir kamu di tahan di custom" diberondong pertanyaannya, saya sama leganya bertemu dengannya setelah perjalanan panjang. Sebenarnya saya agak lama berputar memilih-milih di duty free saya cukup bingung yang mana yang musti saya beli. 

Seperti ibu saya setiap saya pulang dan menjemput saya di bandara dia akan tersenyum lega melihat saya dari jauh, menghampiri dan memeluk saya erat ada titik air disudut matanya, dan ketika kami berpisah dia akan menitikkan airmata sedihnya.

Pernah, kawan saya yang lain menjemput saya di bandara, segera setelah pesawat landed dan saya bisa mengaktifkan cellphone sudah ada sekian sms nya yang masuk ke inbox memastikan saya baik-baik saja, mengabarkan dia menunggu saya di pintu kedatangan. Saya melihatnya tepat berdiri diujung pintu dia melambaikan tangannya saya melihat senyumnya, dia harus tahu betapa leganya saya hari itu setelah menunggu lama akhirnya kami berjumpa. Ketika saya harus kembali dan kami harus berpisah di departure, saya memeluknya melihat wajahnya yang sedih suara lirih nya berkata "bye Ru, take care", dia tidak tahu saya lebih sedih dibanding kannya he should've knowhow i hate goodbye. Saya pamit, saya tidak melihat kebelakang dan saya tidak pernah melihatnya lagi.

Ngurah Rai-Denpasar
Saya harus kembali, kawan baik saya kembali mengantar saya ke Gardemoen saya bilang saya berterimakasih banyak padanya rasanya saya tidak kuasa "Ru please dont do that" saya akan menangis hari itu, dan dia tidak mau saya menangis. ya saya terlalu cheesy, karena dia dan keluarganya sudah sangat baik pada saya, sudah waktunya saya kembali pulang. Saya berdiri melihatnya pergi, kali ini kawan baik saya yang ini tidak melihat kebelakang dia terus berjalan. Tidak ada yang memperhatikan saya dan titik air mata saya, sudah biasa, ini departure.

Gardemoen
Banyak cerita di bandara, melihat berbagai macam wajah dan ekspresi, menerka-nerka apa dibaliknya. Now you know where to find me when im not around, coba saja cari di bandara. Mungkin saya sedang duduk di lobby melihat lalu-lalang orang.

Comments

Popular Posts